Teori Arus Balik

(Putra Pradana R.A/120731435948/28/3/SIK-B)

                  Agama hindu-budha merupakan agama yang sama-sama lahir di India. Proses masuknya kedua agama tersebut di Nusantara tidak terlepas dari pengaruh persentuhan kebudayaan antara kedua negara tersebut. Adanya hubungan ini juga diperkuat karena daerah Nusantara merupakan jalur perdagangan strategis yang menghubungkan antara india dan Cina. Teori Masuknya Agama Hindu-Budha dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu Teori Kolonialisasi dan teori Arus Balik. Teori Kolonialisasi adalah teori yang menekankan pada peran aktif dari orang-orang India dalam menyebarkan pengaruhnya di Indonesia. Dalam teori ini, orang Indonesia sangat pasif, maksudnya mereka hanya menjadi objek penerima .

  • Teori kolonialisasi dibagi menjadi beberapa  hipotesis:

a)      Hipotesis Waisya

NJ krom berpendapat bahwa terjadinya hubungan antara India dan Indonesia karena adanya hubungan perdagangan, sehingga peran pedagang India dalam teori ini sangat berpengaruh. Kelemahan teori ini adalah, para pedagang yang termasuk dalam kasta waisya tidak menguasai bahasa sanskerta dan huruf pallawa yang umumnya hanya dikuasai oleh kasta brahmana. Yang kedua adalah banyaknya kerajaan hindu-budha yang berada di pedalaman. Seandainya, jika yang membawa adalah para pedagang maka letak pusat kerajaan berada di pesisir pantai.

b)      Hipotesis Ksatria

Tiga ahli yang mengemukakan pendapatnya tentang proses penyebaran oleh kaum ksatria, yaitu:

Ø  C.C Berg

Para ksatria ini ada yang terlibat konflik dalam masalah perebutan kekuasaan di Indonesia. Mereka dijanjikan akan di beri hadiah apabila menang, yaitu dinikahkan dengan seorang putri dari kepala suku yang dibantunya. Dari perkawinan ini, tradisi hindu berkembang dengan mudah.

Ø  Mookerji

Para ksatria ini membangun koloni-koloni yang akhirnya berkembang menjadi kerajaan dan menjalin hubungan dengan kerajaan India dan mendatangkan para seniman yang berasal dari India untuk membangun candi-candi di Indonesia.

Ø  J.L Moens

Pada abad ke-5, banyak para ksatria yang melarikan diri karena peperangan di India. Para ksatria yang berasal dari keluarga kerajaan  mendirikan kerajaan baru di Indonesia.

Kelemahannya adalah:   Para ksatria tidak menguasai bahasa sanskerta dan huruf dan pallawaApabila daerah Indonesia pernah menjadi taklukan kerajaan-kerajaan India, pasti ada prasasti. Namun ternyata tidak ada.

c)      Hipotesis Brahmana

Menurut JC. Van Leur , kaum brahmana mampu menguasai bahasa sanskerta dan pallawa sehingga mereka memegang peranan penting dalam penyebaran agama dan kebudayaan hindu-budha di Indonesia. Kelemahannya, dalam tradisi hindu Brahmana pantang menyeberangi lautan.

  • Teori Arus Balik

Teori ini dikemukakan oleh F.D.K Bosch yang menentang tentang teori kolonialisasi. Menurut pendapatnya Indonesia lebih bersifat aktif. Mereka belajar ke India untuk menuntut agama Hindu-Budha kemudian mereka kembali ke Indonesia untuk menyebarkan ilmu mereka. Beberapa kritikan F.D.K Bosch yang menentang teori kolonialisasi, adalah sebagai berikut:

Ø  Teori kolonialisasi tidak mempunyai bukti kuat. Pada hipotesis waisya, tidak terbukti bahwa kerajaan awal di Indonesia yang bercorak Hindu-Budha ditemukan di pesisir pantai, melainkan di pedalaman. Pada teori ksatria, tidak ada bukti prasasti yang menyatakan tentang  penaklukan Nusantara oleh India.

Ø  Tidak ditemukan keturunan antara golongan ksatria dan pribumi jika memang terjadi pernikahan sebenarnya.

Ø  Dilihat dari karya seni, terdapat perbedaan pembangunan antara candi-candi  yang dibangun di Indonesia dengan candi-candi yang dibangun di India.

Ø  Bahasa sanskerta hanya dipelajari oleh kaum brahmana, namun bahasa sanskerta adalah bahasa yang digunakan oleh kebanyakan orang India. (http://www.tuanguru.com/2012/08/teori-masuknya-hindu-budha-ke-indonesia.html)

Krom mengatakan: “… orang tidak perlu membayangkan suatu peradapan yang luarr biasa, yang dapat berdiri berhadapan setaraf dengan peradapan Hindu. Akan tetapi jelas mereka (orang Hindu) tidak tiba di tengah-tengah orang biadab.”1


1.N.J. Krom.,op. cit., hlm.54

Van Leur menganggap pernyataan Krom tersebut sangat negatif.2 Selanjutnya ia mengatakan bahwa kunci untuk dapat menilai dengan tepat pengaruh budaya Hindu di Indonesia adalah perkiraan perkataan yang tepat tentang arti peradapan kuno Indonesia dalam arti seluas-luasnya.3 Pendapat ini ia ajukan karena ia melihat bahwa peneliti proses masuknya budaya India kurang memperhatikan hal tersebut.

 

Proses masuknya pengaruh budaya India pada umumnya disebut penghinduan oleh para penelitinya. Istilah tersebut harus digunakan dengan hati-hati karena bukan hanya pengaruh Hindu yang terdapat, melainkan juga pengaruh agama Buddha. Dalam kenyataan di Indonesia keduanya kemudian tumbuh dalam bentuk koalitis, yaitu Siwa-Budda.

Hubungan dagang antara orang Indonesia dengan India telah mengakibatkan masuknya budaya India dalam di Indonesia. Namun bagaimana sesunggunya proses yang terjadi belum dapat diungkapkan sepenuhnya oleh para penelitian-penelitian yang telah dilakukan sejak abad yang lalu. Pada pokoknya pendapat peneliti dapat dibagi dua. Pendapat pertama bertolak dari anggapan bahwa bangsa Indonesia berperilaku pasif dalam proses tersebut. Pendapat kedua yang tumbuh lebih akhir memberikan peran aktif kepada bangsa Indonesia.

a. Bangsa Indonesia bersifat pasif

Hal ini memberikan pengertian bahwa masyarakat Indonesia hanya sekedar menerima budaya dari India. Dengan demikian akan menimbulkan kesan bila telah terjadi penjajahan / kolonisasi yang dilakukan bangsa India baik secara langsung maupun tidak langsung.

b. Bangsa Indonesia bersifat aktif

Hal ini memberikan pengertian bahwa masyarakat Indonesia sendiri ikut aktif dalam membawa dan menyebarkan agama dan budaya Hindu Budha di nusantara. Salah satu cara yaitu mengundang para brahmana dari India untuk memperkenalkan agama dan budayanya di Indonesia.


2. J.C. van Leur, op. cit., hlm.225

3. Ibid

             Para eksponen pertama selalu beranggapan bahwa telah terjadi kolonisasi oleh orang-orang India. Kolono-koloni orang India ini menjadi pusat penyebaran budaya India di Indonesia. Bahkan ada yang berpendapat bahwa kolonosasi tersebut disertai pula oleh penaklukan. Hingga timbul gambaran yang melukiskan orang-orang India sebagai golongan yang menguasai orang Indonesia.4

 

             Dalam proses masuknya budaya India menurut gambaran di atas peran utama dipegang oleh golongan prajurit, yaitu kasta Ksatria. Oleh karenanya Bosch menyebutnya sebagai hipotesis ksatria. Pendapat lain yang masih berpegang pada angapan adanya kolonisasi memberikan peran pada golongan lain dalam proses masuknya budaya India. Hipotesis yang mula-mula diajukan oleh Krom memberikan peran pada golongan pedagang.5 Krom tidak berpendapat bahwa golongan ksatria merupakan golongan terbesar di antara orang-orang India yang dating ke Indonesia. Karena orang India dating untuk berdagang, maka golongan terbeser adalah pedagang. Krom mengisyaratkan kemungkinan terjadi perkawinan antara pedagang dengan perempuan Indonesia. Perkawinan demikian merupakan saluran penyebaran pengaruh yang penting. Karena pedagang termasukdalam kasta waisya, Bosch menyebut hipotesis ini hipotesis waisya.6 Hipotesis Krom mendapat penganut di kalangan yang luas. Akan tetapi dengan adanya kemajuan-kemajuan dalam penelitian, tumbuh pula pendapat yang beranggapan bahwa hipotesis tersebut masih kurang memberikan peran pada bangsa Indonesia. Walaupun Krom telah melihat adanya peran yang penting dari budaya Indonesia.

Van Leur mengajukan keberatan baik terhadap hipotesis ksatria maupun hipotrsis waisya. Keberatan utama adalah mengenai kolonisasi. Suatu kolonisasi yang melibatkan penaklukan oleh golongan ksatria tentunya akan dicatat sebagai suatu kemenangan. Cataatan yang demikian tidak terdapat pada sumber-sumber tertulis di India. Di Indonesia pun tidak terdapat suatu tanda peringaan apapun, misalnya dalam bentuk prasasti.


4. F.D.K Bosch “ The Problem of the Hindu Colonisation of Indonesia”, dalam Selected Studies in Indonesian Archaeology, 1961, hlm. 6

5. N.J. Krom.,op. cit., hlm.90

6. F.D.K Bosch, op. cit., hlm.7

 

Hubungan mereka dengan penguasa hanyalah dalam bidang perdagangan. Dari mereka tidak dapat diharapkan pengaruh budaya yang membawa perubahan-perubahan dalam dalam bidang agama dan tata Negara. Mengingat sifat unsur-unsur budaya India yang terdapat dalam budaya Indonesia, van Leur cenderung untuk memberikan peran penyebaran budaya India pada golongan Brahmana yang datang atas undangan para penguasa dari Indonesia. Dan budaya yang mereka perkenalkan tentunya budaya dari kaum Brahmana.

Namun apa yang telah diuraikan di atas adalah hipotesis menurut van Leur tentang masuknya budaya India dan masih belum jelas apa yang mendorong proses tersebut. Van Leur berpendapat dorongan itu akibat kontak dengan India melalui perdagangan. Bukan hanya melalui orang-orang India, tetapi mungkin juga orang Indonesia melihat sendiri keadaan di India yang akhirnya terdorong oleh keinginan untuk meningkatkan keadaan negerinya. Bosch menyetujui pendirian dengan van Leur. Berpangkal tolak dari unsure-unsur budaya India yang diamati dalam budaya Indonesia, ia juga berpendapat hanya golongan cendikiawanlah yang dapat menyampaikan kepada bangsa Indonesia. Golongan tersebut mereka sebut clerks dan untuk proses yang terjadi antara budaya India dengan budaya Indonesia mereka mengusulkan istilah penyuburan7. Ia melihat dua jenis penyuburan.

Pertama dan kemungkinan terjadi lebih dahulu adalah proses melalui pendeta agama Buddha.8 Pendeta-pendeta agama tersebut menyebar ke seluruh penjuru dunia melalui jalan-jalan perdagangan tanpa menghiraukan kesulitannya. Mereka mendaki pengunungan Himalaya untuk menyebarkan agamanya di daerah Tibet. Kemudian mereka melanjutkan usaha mereka ke utara hingga sampai ke Cina. Setelah mereka sampai di tempat tujuan biasanya mereka berhasil bertemu dengan kalangan istanah. Kemudian dibentuklah sebuah dengan India, tanah suci agama Buddha. Kedatangan bhiksu-bhiksu dari India di berbagai negeri ini ternyata mengundang arus bhiksu dari negeri-negeri tersebut ke India. Para bhiksu itu kemudian kemudian kembali membawa kitab-kitab suci, relik, dan kesan-kesan. Bosch menyebutnya gejala ini sebagai gejala sejarah arus balik.9


7 F.D.K Bosch op. cit., hlm.20. Istilah yang diusulkannya ialah fecundation

8 Lihat juga G.Coedes, op. cit., hlm.1

9 F.D.K Bosch, op, cit., hlm. 14. Ia menyebutnya counter-current

Bosch telah menarik perhatian kita kepada manifestasi pengaruh arus balik di negeri asal para bhiksu. Khususnya yang nampak pada seni agama Buddha. Ternyata baik di Indonesia maupun di daerah Asia Tenggara lainya telah tumbuh seni agama Buddha baik yang berasal dari bhiksu India maupun arus balik tidak menghasilkan suatu seni perantauan. Gejala yang nampak pada seni ini terdapat pula pada bidang-bidang pengaruh agama Buddha lainnya.

DAFTAR RUJUKAN

Bosch, F.D.K.,1961. “The Last o the Pandavas”, Selected Studies in Indonesian Archaeology, The Hague.

Krom, N.J.1931. “Hindoe-Javaansche Geschiedenis, tweede herzine druk, s-Gravenhage: Martinus Nijhoff

van Leur, J.C.1955.Indonesian Trade and Society. Th Hague/Bandung: W.van Hoeve.

Coedes, G.1968.The Indianized States of Southeast Asia.Edited by Walter F.Vella, translate by Susan Brown Cowing. Kuala Lumpur/Singapore: University of Malaya Press.

Google.2012.Teori Masuknya Hindu-Buddha ke Indonesia. (online), (http://www.tuanguru.com/2012/08/teori-masuknya-hindu-budha-ke-indonesia.html), diakses 19 Oktober 2012